The Unspoken Thoughts
2:00 PM
Silence drives each one to overthink what the other one is thinking
Ika Natassa
Gitu deh, manusia. Segamblang apapun sifatnya, pasti ada aja yang sengaja disimpan rapat-rapat. Beberapa menganggapnya nggak perlu diutarakan, beberapa lagi memang sifatnya introvert, dan ada juga yang memilih untuk mengutarakan pikirannya dengan cara yang lain.
Yang terakhir itu gampangnya 'kode'. Berharap orang yang dituju akan menangkap maksud dari apa yang kita lakukan.
Admit it, we once posted a song or a quote (through Instagram, Path, or profile pictures) as a strategy to catch someone's attention. Because I did too, sometimes. Yes, laugh at me as you please. Perkara kodenya tepat sasaran atau engga, itu urusan belakangan. Di-view aja udah bersyukur, apalagi kalau sampai di-like, terus langsung disapa di chat room.
Nggak cuma dalam bentuk cyber seperti itu, di kehidupan sehari-hari juga pasti sering deh. Pengen dingertiin, tapi nggak mau ngomongnya. Gimana coba? And we all have heard this saying that states, "silence is the loudest scream."
Misalnya gini, ketika dua orang sedang head-to-head dalam satu argumen dan timbul jeda selama beberapa menit di mana kita semacam dikasih kesempatan buat merangkai argumen selanjutnya, di situ juga kita presume. Bikin skenario sendiri di otak kita tentang apa yang dipikirkan lawan kita.
Manusia itu suka menebak-nebak apa saja
Bu Rosmawati
Debat itu bikin males. Udah jengah sendiri denger penjelasan lawan kita. Dan karena ga mau berpanjang-panjang, kita memilih untuk diam aja dari awal, melontarkan hanya kalimat-kalimat singkat.
"Ya lo pikir aja sendiri salah lo apa."
Kalau versi FTV-nya, "semuanya udah jelas. Gue ga butuh penjelasan lo lagi."
Lawan bicara kita juga gitu, "harusnya lo paham situasi gue gimana."
Blah, blah, blah. We tend to think that the unspoken words never do harm. Ada betulnya juga sih, kita nggak tahu kalau tiba-tiba harimau keluar dari kandangnya, mengucapkan kata-kata yang nggak seharusnya diucapkan.
We're torn between wanting to listen and to speak up. Dan kalau dengerin lawan kita bicara, yang ada cuma makan hati. Ga mau bicara banyak, tapi pengen dingertiin. Padahal jengkel juga kan, kalau overthinking dan cuma bisa mendem sampai entah kapan. Manusia, manusia.
Dude, we're human. We're not like God or something. Tuhan Yang Maha Tahu aja lebih senang kalau kita berdoa serinci-rincinya. Ya gimana manusia yang bukan apa-apa.
There is no greater agony than bearing an untold story inside you
Maya Angelou
Unspoken thoughts, kalau setelannya ngaco, cuma bikin salah paham.
Gue belajar dari hal ini untuk ga hold back. Jadi, daripada diem-dieman ga jelas mau dibawa ke mana, mending langsung kasih tahu aja. Speak it up, write it down, use any kind of art form, and shove it away to the face of that someone yang kita tuju.
Bukan sesuatu yang mudah, gue tahu. Karena manusia memang dari sananya egois dan punya gengsi. Lawan bicara kita juga belum tantu mau dengerin, sih. But trust me, kalau kita mengutarakan pikiran kita dengan tenang, terbuka dan yakin, pasti jadi lebih lega. Even if it is our dark side that came out deadly and as sharp as the tip of a sword, by our calmness, they will understand and just be there to remind us of ourselves--remind us when we've forgotten.
Spreading good vibes,
Sarita Ayas
Spreading good vibes,
Sarita Ayas




0 comments