The City So Nice, They Named It Twice

10:53 AM




I'm taking a Greyhound on the Hudson River Line
I'm in a New York State Of Mind
-Billy Joel


Kadang kala cita-cita berubah jadi obsesi.
Dan ada dua hal yang dipisahkan oleh seutas benang; keinginan, dan kebutuhan.
New York adalah cita-cita gue yang berubah menjadi obsesi.
New York adalah keinginan sekaligus kebutuhan gue.

Mungkin karena kebanyakan nonton film dan TV series. Macam Castle, The Carrie Diaries, Breakfast At Tiffany's, Glee, The Muppets Take Manhatan bahkan Annie dan Enchanted. Atau karena sering berangan-angan jalan di trotoar Brooklyn yang ramai, dan berakhir motret Manhattan Bridge dari Dumbo (in which I found out recently that DUMBO stands for Down Under Manhattan Bridge Overpass) makanya kalau motret dari situ, Manhattan Bridge-nya kelihatan dari bawah-samping.

New York, 16714 kilometer jauhnya dari Jakarta. 25 jam penerbangan (menurut flight calculator). Segitu jauhnya. Gue benci berada terlalu jauh dari rumah tapi New York adalah pengecualian.

Kata Jay Z, "if you can make it there, you can make it anywhere."
Ibaratnya kalau orang-orang dari daerah mengadu nasib ke Jakarta, nah, New York itu tempat mengadu nasib orang-orang di seluruh dunia. Nggak percaya? Di New York, ada 800+ bahasa yang digunakan sehari-hari dan menjadikannya negara bagian yang menggunakan bahasa terbanyak di dunia.

Dari dulu kepingin ke New York. Mau kerja. Mikirnya sih jadi intern di salon, jadi asisten make up artist, atau jadi stylist seperti Kurt Hummel di vogue.com.

Awalnya jadi turis dulu, jalan-jalan ke segala tempat terkenal dan foto di sana. Mungkin gue akan nangis waktu pertama kali turun dari pesawat setelah 25 jam di udara untuk akhirnya menginjakkan kaki di John F Kennedy International Airport. Dan gue akan bilang ke diri gue sendiri, "nyampe, Yas. Gila, lo nyampe sini."

Bisa-bisa sebulan gue jadi turis New York. Pergi ke mana-mana nenteng ransel berisi kamera. Naik turun ratusan anak tangga, ngerasain hidup di tengah kesibukan orang-orang asli sana. Jalan kaki ke mana-mana, nginep di hostel murah, makan burger dan semuanya.

Dari kelas 6 SD gue udah kepingin ke sana. Awalnya cuma karena kagum lihat Times Square. Makin ke sini makin banyak alasan untuk nggak ke New York sebelum mati. Thrift Shop, rumah Carrie Bradshaw, rumah Lula Mae, food trucks, NYFW, dan semua-mua-muanya. Selalu ada tempat untuk hidup di New York (tidak termasuk gang-gang sempit di balik gedung where the slums are. Ohh not a chance).

Jadi turis, tapi sambil memikirkan masa depan gimana kalau gue ikutan memenuhi kota New York dengan pindah, tinggal dan kerja di sana seperti mimpi gue selama ini?
Man, I'd do cheapskates.
I'd live in teeny tiny apartment.
I'd eat kebab everyday.
Selama masih bisa gerak dan masak dengan manusiawi, dan selama harganya masih masuk akal mah ayo aja.
I'd save a hell lot of money.
Kalau perlu belanja pakaiannya di thrift shop, secara di sana kalau nemu yang bener-bener murah, kita bisa dapet coat Tommy Hilfiger tahun 80-an for only $9.
I'd walk everywhere if I could.

I have no clue how my brain could work this way, but I want to be in New York as much as I want to be in Mecca.

Doain ya, setidaknya lima-tujuh tahun dari sekarang gue berhasil mewujudkan obsesi yang satu ini. I'm working on it, nih. Moga-moga berjalan sesuai rencana.

So here it is.

Anytime soon.
New York.
Stylist. Make Up Artist. Personal Shopper. Or whatever it could be.


Spreading good vibes,
Sarita Ayas


You Might Also Like

0 comments