Letting Go

12:20 PM

Pernah ga lo ngerasa terikat banget sama sesuatu atau seseorang? Terikat dengan gadget lo, terikat dengan binatang peliharaan, terikat dengan suatu hubungan atau apapun yang membuat lo merasa nyaman dan bahagia?
Lalu apa yang lo lakukan tentu ga jauh-jauh dari menjaga sesuatu itu dengan baik. Pasti disayang-sayang, jangan sampe rusak, jangan sampe habis, jangan sampe diambil orang.

Begitu juga ketika lo merasa terikat dengan seseorang. Entah lo menyebutnya sebagai pacar, sahabat, tambatan hati, belahan jiwa atau apapun.
Lo bakal kasih apa aja yang lo bisa kasih supaya kalian tetep bareng-bareng karena lo tau, lo ga bisa ngerasain kebahagiaan yang sama selain dengan orang itu.

Kalian bisa ngobrol berjam-jam sampe malem.
Lo cuek ngeladenin orang itu curhat bahkan ketika lo membutuhkan ketelitian luar biasa saat lo lagi berusaha membuat winged eye liner.
Lo lagi liburan dan daftar oleh-oleh teratas adalah buat orang itu.
Dia bisa cerita tentang apapun masalah yang lagi dia lalui dan lo udah nganggep masalah dia jadi kewajiban lo buat bantu selesaiin sebisanya.

Dan tanpa lo sadari, orang itu masuk ke daftar prioritas lo.

Ketika lo sedang bersama orang itu, lo merasa nyaman. Lo merasa bahagia. Lo nggak peduli lo di tengah hutan sekalipun karena dia ada di samping lo.
Kalian bisa ngabisin seharian buat ngomongin apapun yang terbentang dari bumi sampai ke langit.
Kalian ga merasa direpotin ketika salah satu dari kalian butuh pertolongan.
Kalian ga bisa ga ngobrol sehari aja.
Hell, kalian bahkan ga bisa melewatkan tiga jam tanpa denger suara satu sama lain.

Kalian berdua berusaha mengenal satu sama lain dari hari ke hari, dari hati ke hati sampai akhirnya bisa memahami dari tai ke tai.
Kalian berusaha ngertiin sifat satu sama lain. Apa yang jadi keunikan dia, lo ngerti. Apa yang lo anggap sebagai ketakutan, dia ngerti.
Kalian sama-sama tahu kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Dan dengan itu kalian berdua berusaha buat saling melengkapi.
Apa yang jadi mimpi kalian, apa yang ga pernah absen dari doa-doa kalian, apa yang kalian suka dan ga suka, ke mana kalian akan pergi, dan gimana kalian melihat segalanya.

Di saat lo bertindak bodoh, orang itu akan ada buat ngingetin lo.
Di saat lo butuh encouragement, dia bakal kasih seberapa banyakpun lo membutuhkannya.
You know the feeling is mutual.

Seorang sahabat, pacar, tambatan hati, belahan jiwa atau gimanapun lo menyebutnya, akan bikin lo jadi seseorang yang lebih baik. Begitu juga sebaliknya.
Sambil kalian belajar memahami satu sama lain, kalian ga akan notice kalau waktu juga ikut berjalan seiring persahabatan kalian berdua.

Lo seneng, dia seneng, senengnya bareng-bareng.
Cuma itu doang yang paling penting buat lo.

Biarpun kalian debat sampe menyumpah serapah, biarpun kalian saling ganggu satu sama lain, mau sampe kapanpun kalian ga bisa dipisah.
Lo dan dia sama-sama tau kalian bukan tipe orang yang 24/7 mengekspresikan I-Love-You's, kalian juga bukan sahabat yang selalu makan siang bareng di setiap weekend dan mengakhiri pertemuan dengan bikin foto di photobooth. Bukan.
Tapi kebiasaan buat nyampein salam, ngobrol bareng tiap pagi walaupun cuma lima menit, dan segala bentuk kepedulian lainnya... now that's what the act of love is all about.

With that person, life is an adventure.
The more you two discover together,
the more you realize it's not anymore a blur.

But then things went wrong out of the blue and the two of you are no more sticking glue.

Semua rasanya jadi aneh.
Dingin, hambar, kering.... distant.

The sparks are gone.
They’d disappeared, somehow.

Lo udah kasih usaha terbaik lo, tapi semesta ga mengamini.
Lo berusaha memperbaiki semuanya, tapi ga berhasil.
Lo minta maaf beribu kali buat apapun kesalahan yang lo lakukan, tapi hasilnya nihil.

Ya udah aja gitu.

Sulit.
Lima tahap kesedihan yang orang bicarakan, buat lo lebih kayak sejuta tahap kesedihan yang ga bisa dengan segera lo taklukkan.
Kayak dipukul palu godam. Sakit. Like hell, it does.
You're now replaced, yang tak terganti cuma ada di lagu Marcell Siahaan.

Dan saat itu lo ingat bahwa dia masih ada di daftar prioritas lo. Hanya itu yang lo ingat dan lo pegang kuat-kuat.

Yang terpenting sekarang udah bukan kebahagiaan lo dan kebahagiaan orang itu lagi.
Yang terpenting sekarang hanya kebahagiaan orang itu, walaupun lo sendiri ngerasa worse than ever.

How do I say it...

You set him/her free.
If he/she doesn't seem to like to see you around, you don't be around.
If he/she feels happier without you, you don't show up.
You pull yourself out of one's sight.
If that's what one wants, that's what one gets.
You'll leave and pretend life is going as perfect.

But you know it isn't.

Letting go is one of the thing that hurts the most. Especially if it is not for something that you like.
But what's important to you is the happiness of that person that used to make you happy.
Even if things couldn't be as it used to be. One may drive away, but you, you're here to stay.
Ironic, isn't it?

That's the day you start letting go of things that you can't change. You leave it at that and start over new.
Yes, it is difficult for sure, but you will manage to get there.

One of a million things I’ve learned along my journey is that letting go doesn’t equal to loving less. I’m not, and I will never love any less.

And to that particular someone that have changed me to a better me, the one that I used to ramble to, the one that made me feel at home, the one that I opened up to, if you read this...,

I let you go.
I let you go, because you will find someone better and I believe you have.
I let you go, because I don't wanna be the heavy weight that drags you down and causes you trouble.

I know it's going to be hard knowing how deep I was attached to you, but I know I have to.
I'm sorry I can never be enough, I can never be the perfect best-friend-for-life, I can never be the one with the fun you're searching for, I can promise you nothing.

Thank you for the lessons, thank you for every single thing we had together.
Those times at my crib or yours that we spent talking about our lives, that night we spent walking down Jalan Setiabudi Bandung to grab some pizza, our evening of going to Ibu Ayu’s Monolog Kartini, our silly memories at GI during the Trick Art Exhibition, our walks together right after school, and many many many more memories that wouldn’t fit in a blog post.
Thank you so much.

I couldn’t picture how thankful I am to know a person like you. Someone that’s so straight-forward, someone that thinks all the way to the future, someone that loves more, someone that’s strong and independent. You have taught me so much in life.
And as I said to you, I'm not going anywhere.
I'm sorry for all the bad times, I love you, and I wish you good luck..




Sarita Laras

You Might Also Like

4 comments

  1. Sedih aa. Semua akan indah pada waktunya ayas. Ikhlasin pasti bisa dapet yang jauhhh lebih lebih baik dari dia. Semangatt!

    ReplyDelete
  2. KAK AYAAAAASSSSSS AKU BAPER PARAH NGESTALK BLOGNYA KAK AYAAASSS:"( hahahahaha

    ReplyDelete