Take It or Leave It
9:18 AMKetika lo dihadapkan dengan sebuah kesempatan yang lo ga tau itu pahit atau manis. Kesempatan itu ada di depan pintu, menunggu lo. Maukah lo membuka pintu dan mengizinkan kesempatan itu bertamu dan mendengarkan ceritanya?
Kesempatan itu mengajak lo pergi berpetualang.
Panas-panasan, hujan-hujanan, bahkan pergi jauh, tapi dia tetap berjanji akan mengantar lo pulang.
Kesempatan itu mengajak lo untuk menciptakan kenangan-kenangan baru.
Setengah hati lo percaya, petualangan yang dijanjikannya akan menyenangkan. Tapi setengah hati lo yang lain bertahan di gubuk keragu-raguan. Bingung. Setengah hati yang mana yang lebih lo percaya?
Panas-panasan menyenangkan, tapi lo takut kulit lo kusam.
Hujan-hujanan bikin bahagia, tapi lo ga mau demam keesokan harinya.
Ingin pergi jauh, tapi lo ga siap meninggalkan rumah.
Lo ingin menciptakan kenangan-kenangan baru, tapi gimana kalo kenangan itu bukan kenangan manis?
Jadi lo memilih untuk bertahan di situ aja, ga melangkah sedikitpun. Menyilakan kesempatan itu pamit dan memulai petualangannya.
Sehari, seminggu, sebulan... setahun.
Perlu setahun, sampai akhirnya kesempatan itu kembali, setelah sibuk ke sana-sini tanpa pernah mengabari. Hanya posting di instagramnya yang meninggalkan jejak tentang ke mana saja dia pergi selama ini.
Kemudian lo sadar akan satu hal, petualangannya memang luar biasa menyenangkan. Dan sekarang kesempatan itu balik lagi, tapi tak sampai sehari. Dia cuma mampir tanpa mengajak lo pergi. Karena ada penghuni rumah lain yang telah ia kunjungi dan katanya, penghuni rumah itu mau diajak jalan-jalan dengan senang hati.
"Okay...." Hanya itu yang keluar dari mulut lo.
Udah kebayang betapa serunya petualangan kedua, tapi rupanya dia sudah punya teman jalan.
Panas-panasan menyenangkan, tapi lo takut kulit lo kusam.
Hujan-hujanan bikin bahagia, tapi lo ga mau demam keesokan harinya.
Ingin pergi jauh, tapi lo ga siap meninggalkan rumah.
Kemudian lo menyadari satu hal lagi, kenapa ga lo balik aja pernyataan-pernyataan yang sempat membuat lo ragu-ragu itu?
Lo takut kulit lo kusam, tapi panas-panasan itu menyenangkan.
Lo ga mau demam besok hari, tapi hujan-hujanan bikin bahagia.
Lo ga mau meninggalkan rumah, tapi lo pengen pergi jauh.
Seandainya dulu lo melihat kesempatan itu dari sudut pandang yang berlawanan.
Seandainya dulu lo punya nyali yang cukup besar buat ambil resiko.
Seandainya dulu lo percaya dengan setengah hati lo yang lain.
Seandainya dulu lo ga ragu-ragu.
Seandainya
Seandainya
Seandainya
Seandainya
Seandainya lo ga terlambat.
Sarita Ayas




0 comments