Wanderlust: The Prologue
5:53 PM
Buat sebagian orang, citra yang menempel di kata wanderlust tuh sesuatu yang hipster, istilah kekinian yang sering dipakai di caption Instagram. Kekinian, memang. Gue baru tau istilah ini juga waktu SMP gitu, which was 5 tahun yang lalu (damn, I feel old!) tapiii gue sama sekali nggak menganggap wanderlust adalah bagian dari sifat orang-orang hipster. Kenapa? Karena gue bukan hipster tapi gue bisa relate ke kata yang satu itu.
Kata-kata ini nggak punya persamaan di bahasa Indonesia. Kalau diterjemahkan, wanderlust artinya nafsu berkelana. Dan di post ini gue akan cerita kenapa gue bisa relate dengan kata ini.
Gue rasa, dimulai ketika negara api menyerang gue mulai mengenal konsep jalan-jalan, terutama perjalanan yang jauh. Bukan yang ke mal atau ke tempat rekreasi, tapi perjalanan ke tempat yang biasa aja, nggak punya citra yang wow untuk sebagian orang. Dan gue rasa, perjalanan jauh itu gue alami ketika gue mudik. Ayah selalu suka nyetir, bahkan ketika harus bolak-balik berhenti karena ngantuk, Ayah still prefers driving, ketimbang pergi naik pesawat atau kereta. Makanya, gue jadi doyan banget road trip. *seketika kangen mudik jauh*
Dan karena gue suka mudik, lebaran adalah momen yang teramat sangat gue nantikan setiap tahunnya. Ke manapun rencana mudiknya--ke Bandung, ke Madiun, ke Ponorogo--gue selalu semanget. Karena... that means jalan-jalan! Ayah dan Bunda selalu ngingetin gue untuk nggak kebanyakan tidur di perjalanan, selain bisa membuat jetlag, mereka nggak mau gue kehilangan kesempatan lihat semuanya yang jarang-jarang gue lihat. Di sinilah titik yang bikin gue doyaaan banget jalan-jalan, dan jadi hapal jalan.
Awalnya cuma lihat-lihat pemandangan dengan posisi nyandar ke jendela mobil dan berpangku tangan, seolah-olah gue ada di scene Petualangan Sherina waktu Sherina menuju ke Bandung Utara. Lalu, setiap perjalanan Jakarta-Madiun-Ponorogo, Ayah pasti mampir-mampir dulu. Berhenti di Yogya atau Solo buat istirahat sebentar, jajan pecel pasar, atau keliling city center sebelum lanjut ke tujuan awal. Sering juga berhenti di antah berantah kalau dia capek dan pengin ngopi. Pernah di satu kesempatan, jam sebelas malem Ayah laper, dan kami lagi di Brebes. Dia berhenti di warung sate ayam pinggir jalan gitu. Gue dan adik gue lagi tidur, dibangunin buat nemenin Ayah-Bunda makan dan diminta ngicipin rasanya teh poci. Namanya juga Brebes, orang-orang sana punya dialek bahasa Jawa yang berbeda, dan yang paling gue highlight adalah aksennya mereka! Duh, logat pesisir memang juara. Gue sampai bilang ke Bunda, "If only we can have one of the mbak-mbak and work at home."
Sejak saat itu, gue jadi semakin semangat mudik, dan selalu nggak mau ketinggalan turun dari mobil di setiap pit stop, karena gue percaya kalau di luar pasti ada sesuatu yang menggelitik buat diketahui. Gara-gara itu juga gue doyan megang kamera dan motret-motret apapun itu, karena gue pikir, belum tentu lain kali gue akan kembali ke tempat yang sama. Bahkan ketika gue berkesempatan untuk balik ke tempat itu lagi, belum tentu gue akan menemui hal yang sama.
Keyakinan bahwa di luar sana ada teramat sangat banyak hal buat dijelajahi membuat little Ayas--back then in 2010--melabel dirinya sebagai anak kecil dengan wanderlust, dan sampai sekarang masih memelihara nafsu berkelananya untuk sedikit demi sedikit dipenuhi. I'll catch you on my next post!
Spreading good vibes,
Sarita Ayas
Photo source: tumblr.com
All credit goes to owner! :)









0 comments