2016 Recap

1:47 PM

Sesuai janji gue di post yang kemarenan, gue akan bertemu kalian lagi di penghujung 2016. Berhubung foto-foto kepulangan ke Jakarta masih dicuci, post ini akan berisi 5 hal yang menjadi wana dominan tahun ini, yang disponsori oleh emoji mood chart yang dibuat BuzzFeed. Ketika gue isi chart itu, gue kaget, betapa fluktuatifnya perasaan gue. It really goes up and down very drastically, meskipun di bulan yang sama. Dan pasti fluktuasinya lebih berasa kalau pake skala hari, bukan bulan.
Kalau diminta mendeskripsikan 2016 dalam satu kata, sepertinya gue akan bilang 2016 itu.... nyebelin. I mean, gue sangat bersyukur dengan 2016 dan segala isinya, tapi kejadian-kejadiannya nyebelin banget. Setiap gue happy, ada aja yang ganggu. Tapi, sebaliknya, ketika gue lagi bete, selalu ada yang bikin gue merasa kayak, "Buat apa gue bete, kalau ada banyak hal yang bisa bikin gue seneng."



The People - 2016 mempertemukan gue dengan banyak macam orang. Dan di antara orang-orang itu, gue tau siapa aja yang temporary dan siapa aja yang treasured. Gue menemukan zona nyaman gue, orang-orang yang gue percaya. And just like most people out there, during adolescence I figured out the friendship that's so magical and infinite and weird, all at the same time. And the imperfections in it makes it even better in ways I can ever imagine giving up. Yang temporary biarlah cuma lewat dan jadi pelajaran. Selebihnya, udah nggak mau lagi ada curhat ke orang yang salah. Pada akhirnya mentok di mereka, yang jumlahnya cuma segelintir ini. Jadi, ya, meskipun cuma segelintir, insyaAllah mereka ikhlas membagi waktunya untuk saling berkeluh kesah dan saling mendengarkan ketidaklucuan gue.



Adapting - Separuh 2016 gue dihabiskan untuk beradaptasi di tempat baru, ketemu orang baru, rutinitas baru, pokoknya keluar dari comfort zone, deh. Buat beberapa orang, kenalan sama orang baru tuh hal biasa, tapi buat semi-introvert seperti gue, rasanya gue selalu meringis dalam hati untuk memulai pertemanan dari awal. Secara gue orangnya suka awkward sendiri, dan belum deket sama orang baru means lebih banyak awkward moment tak terhindarkan yang bikin pengin tepok jidat berkali-kali. Teruuus, proses beradaptasi ini bikin gue seratus kali lipat lebih bersyukur dan menghargai apa yang namanya rumah.



Self-Love - Klise, sih. Tapi sejujurnya, gue merasa ada banyak hal yang gue korbankan di tahun ini atas nama self-love. Badan cuma punya satu, hidup cuma sekali, haram hukumnya buang-buang waktu buat nggak menyenangkan diri sendiri. Gue sih, mikirnya, kalau gue bisa kasih yang terbaik untuk diri gue sendiri, gue akan bisa kasih yang terbaik juga buat orang lain.



Decisions - Makin gede, makin tau mana yang bener dan yang engga. Dan keputusan yang kita bikin, gue yakin, adalah refleksi dari diri kita. Bener atau engga. Berhubung udah tau mana yang bener dan yang engga, gue selalu mulai menentukan keputusan lewat pertanyaan "Mau bahagia atau engga?" karena pertanyaan itu dibuat sekaligus sebagai tantangan yang seribu kali lebih sulit daripada Mount Midoriyama yang di American Ninja Warrior. I ask myself that question, setiap kali gue kesandung masalah-masalah kecil tapi nyelekit kayak kesusuban serbuk kayu. Yang bikin sulit menentukannya adalah, terkadang bahagia yang ditawarkan itu cuma sugar coat dari bisikan syaiton. Selalu pikirkan kebahagiaan jangka panjang, jangan kebahagiaan sesaat doang. Satu lagi, biasanya yang pasti-pasti akan jauh lebih enak di hati. Setuju.




Acceptance - Ya abis gimana yaaaa, there were countless things (and people) that I had to deal with. Dan beberapa hal emang harus diterima gitu aja, nggak peduli segimana penginnya gue untuk nggak kayak gitu. Gue berusaha berdamai sama kenyataan, berdamai sama maunya orang lain, dan yang terpenting adalah gue harus bisa berdamai sama diri gue sendiri, karena nggak selamanya semua bisa sesuai dengan 'gimana maunya gue'.

Kelima highlights di atas memberi gue pelajaran yang sangat cukup untuk nggak kesandung lagi di persoalan yang sama, dan setiap hari selalu mengingatkan gue untuk bersyukur atas apa yang gue punya, sebelum gue ngga punya. Seperti yang sudah gue bilang, badan ini hanya ada satu dan hidup hanya satu kali, masa iya mau begitu lagi, begitu lagi? 2017 terrifies the heck out of me, enah kenapa, semoga nggak beneran terrifying. Sampai jumpa di mimpi, 2016. Terima kasih atas segala kejutan dan kebahagiaannya. Our moments will forever be treasured.

Have the happiest New Year, you guys!


xoxo,
Sarita Ayas

You Might Also Like

0 comments