Wanderlust: I'm Coming Home
3:24 PM
Film roll sudah dicuci, dan artinya... photo diary lagi! Phew, setelah dua hari deg-degan nunggu hasilnya, akhirnya tadi malam dikirimin hasil scan-nya. Lagian sih, sotoy banget gue, pakai film yang expired dari tahun 2005. Untung aja jadi, kalau enggak? Yang jelas gue akan uring-uringan dan bete banget, karena di film yang ini, momennya bener-bener ngga bisa diulang lagi. I would have been damned if the results didn't come out well.
| With fellow ibu-ibu, last day in City B, before J Town |
Kali ini photo diary-nya digabung dengan artikel wanderlust gue, karena memang hampir semua fotonya diambil ketika gue di jalan pulang dari Bandung menuju Jakarta. That being said, film ini adalah film yang paling cepat habis, karena ke-36 exposures gue pakai dalam dua hari.
Dari gue masih kecil, gue selalu nggak bisa tidur kalau mau jalan-jalan. Termasuk ketika mau pulang ke Jakarta, sehingga gue berangkat kepagian dari kosan. Tapi, subuh-subuh itu ada sesuatu yang beda dari Bandung. Sekian bulan gue di sana, jarang banget gue bangun pagi dan lihat matahari dan langit cerah tanpa mendung. Tapi subuh itu waktu gue keluar dari kosan, langitnya bersih banget. Banyak bintang, bulannya terang, dan gue sempat lihat sunrise dari peron, waktu nunggu kereta. Gitu, ya, Bandung, pamer cantiknya diam-diam, waktu seluruh dunia masih tidur.
| "Little darling, it seems like years since it's been clear" |
Tiga setengah jam di kereta, I was glad nobody sat on the seat next to mine. Jadi gue nggak perlu jaim-jaim banget untuk terpana lihat sawah sambil nyemilin roti, minum susu dan nyanyi-nyanyi sendiri. Dan baru beberapa langkah gue turun dari gerbong kereta, kesan pertama gue terhadap kota yang udah nggak gue sentuh selama berminggu-minggu ini terdengar sangat ndeso.
| Stasiun Gambir, 09:50 WIB |
| First impression after so long: "Jakarta panas!" |
Menurut weather dan Snapchat, temperatur hari itu sampai 32 derajat Celsius. Gue bener-bener mundur dari niat pulang ke rumah naik TransJakarta saking panasnya, dan gue khawatir nanti gue malah marah-marah sendiri. Niat awal untuk makan es krim Ragusa untuk merayakan kepulangan juga batal. Instead, gue main ke Galeri Nasional. Kebetulan lagi ada pameran 4th Jakarta Contemporary Ceramics Biennale 2016 di sana. Jadi deh, gue menitipkan koper gue di loker penitipan, terus jalan kaki ke sana.
| The first three steps into 4th JCCB 2016 |
Secara judulnya udah biennale, alias digelar dua tahun sekali, ekspektasi gue udah tinggi banget. Turned out it was just 'okay' for me. Memang sih, ada banyak perupa, tapi saking banyaknya, jadi kurang puas gitu, karena dari setiap perupa cuma ada beberapa karya. Terus ada beberapa karya yang display-nya kurang greget, jadi kurang seru deh. Even then, tetep ada beberapa karya yang manggil-manggil, minta dibawa pulang. There were Kyungwon Baek's ceramic containers yang warnanya menggemaskan dan dipajang dan disusun lucu banget. Terus ada selusinan kloset jongkok yang dilukis pakai decals, punya Maria Volokhova dari Ukraina. Dan ada juga karyanya Panca DZ yang berkolaborasi sama Kandura Studio. Karyanya terkesan agak rebel dan 'serem' karena dia mengeksplorasi tato dan tengkorak, dan justru itu yang bikin beda, karena biasanya produk keramiknya Kandura punya kesan dainty dan delicate, and I've always been a big fan of Kandura's works. Sayangnya, foto karyanya Panca DZ nggak jadi. But I have one from a Malaysian artist, though. And I kinda want to have it as an ornament on my wall someday.
| Seed: The Journey of Life Mohamad Rizal Saleh, Malaysia |
Sehari berikutnya, gue ketemu dengan teman lama dan kami pergi nonton bareng. Gue ketiduran di tengah film, karena menurut gue filmnya membosankan, tapi quick catch up bersama mereka selalu menyenangkan dan gue nggak sedikitpun merasa rugi meluangkan waktu untuk ketemu mereka. Gue motret sahabat gue dan pacarnya, sebelum kami pulang, sore itu. There's something that I like about taking pictures of lovers, meskipun fotonya cheesy banget. Ada satu foto lagi, sebenarnya, yang pada akhirnya menenangkan tidur gue, but I'd rather keep it to myself. *winks*
| Meet Nada and her boyfriend. I love taking pictures of lovers. Helps them to have something to cherish forever. |
Sebenarnya, ini adalah film roll keempat gue, yang ketiga belum dicuci dan gue tinggal di Bandung. Nanti tahun depan mungkin akan gue gabung ceritanya dengan film roll selama liburan ini. Seneng deh, bisa nambahin satu photo diary sebelum pergantian tahun, sekaligus jadi journey di cerita perjalanan gue.
Spreading good vibes,
Sarita Ayas




0 comments