So Long, 2017!
9:33 AM
Starting this year with completely no expectation made it to be very.... full of surprises. Tahun ini gue mulai semuanya dengan tertata sangat rapi. Bukan, bukan merencanakan semuanya dengan serapi dan sebaik mungkin, tapi memulai semuanya dengan perasaan yang tenang, ga banyak berharap, dan menyerahkan semuanya ke Yang di Atas. Banyak banget hal yang terjadi sepanjang tahun ini dan tiba-tiba hari ini udah 31 Desember aja.
Tahun ini capek? Iya.
Seneng? Sangat.
Hotel? Triv*go.
MEH.
"Udah mau 2018 masih aja garing," Said everybody ever to yours truly.
Berangkat sama sekali tanpa ekspektasi buat orang yang impulsif dan jarang banget punya target seperti gue cukup membuat tahun ini menyenangkan. Ada beberapa pencapaian yang signifikan di tahun ini dan gue teramat senang bisa survive melewati every single bit of it. Dari situ gue percaya kalau segala hal tuh mungkin aja terjadi, kita nggak tau aja kapan dan gimana, tapi tau-tau udah terjadi aja dan akan berbanding lurus dengan usaha yang udah kita kasih. Ada kalanya kita mesti sangat-sangat kelelahan sampai berdoa supaya seminggu ada 20 hari instead of 7, supaya kita punya cukup waktu untuk membereskan setiap urusan. Ada kalanya 7 hari itu terasa sangat lama ketika lagi males-malesan banget. Ada kalanya 7 hari seminggu itu gue merasa sangat butuh meluapkan segenap emosi yang udah kelamaan dipendem dan cuma pengen didengar. At the end of the day, segala kelelahan dan seluruh endapan perasaan tadi itu akan terbayar lunas sesuai dengan usahanya.
Terima kasih kepada serentetan kepanitiann di 2017 yang sukses membuat gue menjadi kaya gini. Untuk ketiadaan kesempatan untuk pulang ke Jakarta, sehingga gue bisa selalu menghargai setiap kesempatan pulang yang cuma 2-3 bulan sekali. Untuk setiap orang yang begitu berjasa menjadi human diary gue baik secara langsung maupun virtual, yang mendengar dan membaca setiap keluh kesah dan cerita gue yang nggak sabaran ini. Untuk setiap pikiran, cita-cita, dan rahasia yang saling ditukarkan di setiap pertemuan.
If anything, I must say that to me, 2017 has been a year of finding.
Entah seberapa bersyukurnya gue atas setiap temuan sepanjang tahun ini. Lagi-lagi karena gue nggak memiliki target atau ekspektasi apapun, semuanya sangat mengejutkan.
As somebody who's living away from home, di tahun ini gue menemukan dan dipertemukan dengan begitu banyak orang-orang baik yang, seperti sudah gue tulis di atas, mereka adalah human diary gue. Orang-orang yang mungkin nggak ketemu setiap hari, tapi sekalinya ketemu tuh langsung kayak bocor tanggulnya. Juga untuk manusia-manusia yang gue temui hampir setiap hari di kampus yang isi obrolannya nggak tau udah sebanyak dan seheboh apa. Pokoknya bosen banget saking seringnya ketemu, tapi sehari absen aja pasti langsung kangen. I found the bigger siblings that I could never have here in Bandung. Lalu khusus teruntuk geng ibu-ibu repot yang paling ramai sedunia, thank you for keeping up with my craps and unfunny jokes. You girls, here's to more karaoke, late night movies/gossips, mendadak nginep, mendadak dangdut, dan heart-to-heart talks yang begitu berharga. I love yous!
Lalu... menemukan indahnya bisa teleponan lama dengan penghuni rumah. Bunda, Ayah, Adistra. Dari yang awalnya cuma mau tanya sedikit, tiba-tiba malah banjir air mata (this happened once and honestly it was one of the most relieving things I had ever done), ketika telepon hanya diisi dengan kerewelan gue minta pulang dan kecewa karena Bunda nggak ngizinin kecuali urusan di Bandung juga sudah mengizinkan gue untuk pulang, atau atau ketika maksud hati lagi pengen curhat aja ke Bunda, tapi teleponnya di-loud speaker jadi yang lain denger juga, atau simply teleponan untuk mendistraksi diri biar nggak diajak ngomong sama orang lain.
Ayas:
Bun, Ayas mau ngobrol sebentar dong. Sekarang ayas lagi di sini, terus ada si ini. Kita ngobrol aja ya bun biar Ayas nggak usah basa-basi ngobrol sama orang itu."
Selanjutnya untuk Ayah yang tahun ini sangat sering tiba-tiba sampai di Bandung. Udah seneng mungil kalau terima telepon dari Ayah, membayangkan akan dijemput habis kuliah lalu pergi makan dan nginep di rumah Eyang. Tapi nyatanya, obrolan di teleponnya seperti ini
Ayah:
Nduk, Ayah lagi di bengkel Jalan Cemara, habis ini melipir ke Singa Perbangsa. Kamu nyusul ke Kantor Sekre aja ya.
Nduk, Ayah lagi di bengkel Jalan Cemara, habis ini melipir ke Singa Perbangsa. Kamu nyusul ke Kantor Sekre aja ya.
Then there I was. Sore-sore duduk di kantor alumni Unpad, dikelilingi om dan tante teman-teman Ayah yang lagi rapat. Kuliah di mana, main ke mana, ngobrolnya sama siapa. Oh, dan kedatangan Ayah ke Bandung adalah salah satu alasan kenapa gue jadi jarang pulang ke Jakarta. Nggak ada yang mengalahkan campur aduk bahagia ketemu Ayah meski cuma sekejap dan ngobrol sepanjang DU-Ciumbuleuit setelah kenyang makan nasi liwet. Kemudian untuk satu orang terakhir yang bikin kangen rumah, Adistra. Terasa banget di Bandung nggak punya lawan berantem hanya gara-gara sepatu atau pinjem baju nggak bilang-bilang.
Pada akhirnya, gue juga menemukan this particular feeling. Entah apa namanya, tapi gue menyadari betapa indahnya ketika bisa pulang ke Jakarta setelah waktu yang begitu lama. Ya meskipun kadang jalanan terlalu macet dan pas sampai di rumah udah emotionally drained aja gitu. Tapi kemudian capeknya luntur kalau udah duduk di sofa dan ketemu masakan Bunda.
Last but surely not the least, tahun ini menjadi tahun yang meaningful karena gue ngerasa banget the power of being grateful untuk semua yang sudah Tuhan kasih buat gue. Gila ya, kalau udah dikasih kesempatan dan berkah dan rejeki sebanyak ini tapi masih ngga bersyukur juga sih kebangetan. Makin percaya juga kalau makin kita bersyukur dan memantaskan diri, akan dikasih jauh lebih banyak lagi nantinya. Jatohnya kayak mau se-crappy apapun hari gue, sama sekali bukan jadi alasan untuk lupa bersyukur. Alhamdulillah.
Each and every person and feelings that I encounter this year will forever be treasured, including the ones that chose to grow apart. Pasti ada alasan di balik semuanya, makanya gue nggak mau berlama-lama mikirin yang udah-udah. Toh masih banyak lagi yang harus dipikirkan, dilakukan dan diperhatikan.
Cheers to 2018!




0 comments