North Sumatra 2021: A long-shot trip

6:37 PM

The wanderlust post is back. 4 tahun kemarin ngga ada niat untuk nulis di blog, tapi kayaknya kali ini sayang banget kalau ngga diceritakan karena menurut gue tujuan perjalanan kali ini sangat layak untuk diketahui dan didatangi juga oleh banyak orang.

Kedua kaki ini mendarat di pulau Sumatra untuk yang pertama kalinya. Dalam sebuah perjalanan yang diputuskan secara mendadak tapi sudah terpikir sejak lama. Waktu itu tahun 2019, resort Terrario Tangkahan belum dibuka untuk umum dan ngga tau kapan bukanya. Baru ada beberapa foto dan video berseliweran dari orang-orang yang terpilih untuk merasakan nginep di Terrario, dan sejak saat itu, niat gue hanya satu:
Pertama kali tiba di Sumatra, adalah saat gue liburan di Terrario Tangkahan.

Padahal mah... si hutan tuh gue anaknya. Tapi bukan Ayas kalo ngga nyemplung pakai kepala duluan. Berhubung salah seorang traveller panutanku ada yang buka trip grup kecil ke Tangkahan, langsung deh ikutan. Tadinya mau mikir panjang, tapi antrean keburu mepet, jadi ngga boleh berkepanjangan. Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah gue paling gak suka basa-basi sama orang dan tidak tertarik untuk berada di lingkungan asing terlalu lama. Sementara perjalanan ini adalah perjalanan bersama total stranger. Tapi, lagi-lagi, bukan Ayas kalo ngga nyemplung pakai kepala duluan. So here it is. The long overdue graduation trip, my long shot vacation in North Sumatra.

Anyway, ini adalah rangkuman singkat perjalanan pertama gue ke Medan:
Day 1: Kota Medan
Day 2, 3, 4: Tangkahan, Kab. Langkat
Day 5: Kota Medan


Destinasi pertama adalah rumah Tjong Ah Fie yang sudah beralih fungsi jadi museum. Dia saudagar kaya dari Cina yang berkeluarga di Medan. Rumahnya di tengah kota, luuuuuaaaaass sekali. Entah ada berapa teras dan ruang duduk yang dia punya. Suasananya mengingatkan pada film Crazy Rich Asian. Ya memang tuan rumahnya adalah seorang crazy rich asian, literally. Dekorasinya khas peranakan, perabot kayunya banyak yang masih asli, tapi ada juga yang replika. Cerita tentang Tjong Ah Fie sendiri di telinga gue kurang menarik, simply karena dia orkay aja. sebagian besar rumahnya juga cenderung serem aja gitu di mata gue. Tapi sungguh teras dan ruang duduknya semua bikin obsessed. Kusen jendela dan ga-tau-apa-namanya yang semacam renda di ujung langit-langit, kalau kena cahaya matahari, bikin rumahnya jadi terasa makin cantik. Sepanjang jalan mengelilingi rumahnya, cuma kebayang: ini teras cocok banget untuk duduk sore-sore, di akhir pekan, sambil makan tempe mendoan, dan minum es teh manis (pengennya sih es kopyor pake sirup Tjampolay, tapi kok BM).


Betul-betul hanya ruang duduk Tjong Ah Fie yang menarik perhatianku sampai segitunya. Padahal corak upholstery-nya ramai, begitu juga karpet-karpet yang jadi alas coffee table. But they are all soooo pretty!? Kayak kalau bisa dibungkus, gimana caranya membawa pulang satu ruangan teras Tjong Ah Fie???

Berikutnya adalah restoran seafood Rasa Kita. Dari hotel tempat gue menginap, lokasinya agak jauh. Sekitar 30 menit naik mobil, tapi ngga macet sih. Bertempat di sebuah... apa ya, komplek? Kayaknya kurang tepat kalau disebut pusat perbelanjaan juga, karena ada banyak tempat tinggal--tapi ramai dengan toko-toko dan tempat umum. Oh, namanya boulevard, yes. Bertempat di sebuah boulevard di daerah Cemara Asri, suasananya persissssss banget kayak di Boulevard Kelapa Gading. Valid, gue bilang gini ke temen-temen trip gue, dan mereka 100% sepakat.

Di Rasa Kita, trip organizer gue memilihkan menu andalan yaitu bubur kepiting, puyunghai, dan tahu saos abalone, dan kami juga pesan cumi saos telur asin, dan brokoli bawang putih. Ok, langsung kita sebut ajalah juaranya:

1. Tahu saos abalone
2. Cumi saos telur asin
3. Puyunghai
4. Bubur kepiting

Tahu saos abalone masuk peringkat 1 karena baru pertama kali berjumpa dengan tahu yang rasanya bukan hanya lejjjat namun juga nyaman. Di hidangannya sama sekali ngga ada bentuk abalone, mungkin memang hanya berupa sari pati atau apa gitu di dalem bumbunya. I did not even bother to care, yang gue tau hanya makan dan menikmati tahu nyaman itu. Gue ga tau ada kata lain yang bisa mendeskripsikan rasa nyamannya si tahu ini apa ngga, tapi pokoknya dia nyaman sekali. Sebagian orang yang ketemu makanan enak, akan makan sampai matanya mengerjap-ngerjap, ada yang hanya bisa memandang nanar tanpa berkata-kata, dan ada juga yang badannya bergerak-gerak joget sedikit gitu. NAH kalo bisa sih gue tiga-tiganya. Paham kan.

Cuminya juga enaaaak banget. Kayak udah lama banget ga makan bumbu telor asin yang otentik dan gak terlalu creamy seperti di warung ricebowl kekinian dan ala-ala. Rasa Kita punya bener-bener lekoh, telor asinnya ga main-main, rasanya tebel, and it had the grainy telor asin texture, as well, dan cuminya digoreng crispy, jadi ga eneg. Sungguh persaingan yang sengit antara tahu saos abalone dan cumi telor asin. Tapi tahu saos abalone menang karena gue belum pernah ketemu makanan dengan rasa yang demikian.

Puyunghai-nya berbeda dengan yang biasa gue temui di Jakarta. Bentuknya tidak utuh. Tidak seperti dadar, lebih kayak orak-arik, dan nggak pakai saos merah asam manisnya. Probably the Medan version of puyunghai ya. BUT I'm telling ya it's g0000d. Good. Good. YUM.

Perihal bubur kepiting, menurut gue rasanya ya sama-sama aja dengan bubur ala cina pada umumnya. Emang lebih kental dan bumbunya lebih rich, but not that it's so special for me. Oiya, kepitingnya disajikan utuh di dalem mangkok buburnya, jadi tetep ada banget tuh koreo buka capit kepiting pake capit besi.


Day 2, 3, 4

Tibalah saatnya road trip ke Tangkahan. Letaknya di Kabupaten Langkat. I knew nothing about Tangkahan, except that back in 2003, seorang finalis AFI ada yang berasal dari Langkat. Anyway~ Resort Terrario nya bertempat di Tangkahan, dan udah masuk bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser. I was practically di kaki gunung Leuser, tapi yang di sisi Sumatra Utara. A few KMs down the forest and the hills, and I'd be in provinsi Aceh. 3 jam perjalanan dari Medan, we were considered lucky karena jalanannya ngga macet. Gue ga tau sih definisi macetnya seperti apa. Tapi yang jelas, jalur tol hanya sekitar 1 jam, dan sisanya lewat jalan biasa yang hanya muat 2 lajur. Sesekali ketemu truk pengangkut sawit, dan 1 jam terakhir menuju Tangkahan adalah jalan terjal di tengah hutan sawit.


Setibanya di tengah hutan, inilah yang kami dapatkan. Resort kecil. Keciiil sekali, hanya berisi 3 kamar, dan tamunya paling banyak 3 orang per kamar. Berhubung grup gue ada 6 orang, jadi full capacity. Terrario Tangkahan menjadi karya Andra Matin pertama yang gue datangi. Berhubung konsepnya memang ~menyatu dengan alam~. Lalu semuanya dirancang dengan niat eco. Eco-living, eco-friendly, eco dj, eco patrio, desain dan perabotannya pun begitu. Ini resort cocok untuk yang mau melipir sejenak dari kesibukan duniawi. Secara di sini ngga ada TV, AC, apalagi wi-fi, dan sinyal telepon juga milih-milih banget. Kayak yang dipaksa untuk tidak memusingkan deadline, walau kenyataannya tidak semudah itu.

The room was small. Gue mendapat kamar paling ujung, dengan pemandangan kolam koi. Sekeliling resort kami adalah hutan dan badan sungai Batang. Minggu itu, cuaca di Sumatra Utara cenderung cerah berawan, bahkan hujan tiap malam. The weather made it all so serene to be there. Ngga ada polusi, ngga ada bising suara mesin dan kendaraan, yang ada hanya suara sungai, binatang-binatang hutan, kipas angin dan kami ketawa-ketawa setiap ngumpul di common area.


Agenda utama di Tangkahan akhirnya di depan mata: main di hutan, sungai dan meet n greet dengan gajah sumatra yang tinggal di daerah konservasi Tangkahan. Berjumpa dengan gajah sumatra dilakukan dengan ngapung di sungai (beneran cuma ngapung aja gitu kayak e*, tau-tau kami sampai di basecamp gajah. Padahal bisa aja sih jalan kaki, tapi karena tanggung, mending nyemplung ke sungai. Dengan bantuan pemandu lokal, Jack dan Ika, 2 hari kami di Tangkahan diisi dengan main-main di sungai dan mampir ke kandang gajah.


Eh, I'm not sure if it was a kandang or simply just their 'dining room'. Tapi yang pasti, gajah-gajah ini bukan ditonton sebagai hiburan. I took the meeting as a respect to these strong beings. Kondisi mereka di konservatorium itu tidak lain berawal karena habitat asli mereka tergusur sama manusia. Hutan liarnya masih ada, tapi terlalu membuat gajah-gajah ini stress dan pada akhirnya tetap 'menjajah' tempat tinggal manusia. Akhirnya mereka dirawat di wilayah konservasi aja, dan kecil kemungkinannya mereka bisa dilepas kembali ke alam liar.


Ada beberapa ekor gajah yang gue temui di Tangkahan. Ada Theo, ada juga Sari, Boni dan Albertina. Gue ga bisa membedakan yang mana adalah siapa, but it was nice meeting them during their afternoon snack time. Pictured below is me with Theo, weighted 3500kg, umurnya 32 tahun. Untuk yang mengenal gue secara akrab banget, pasti taulah betapa gue tidak pernah secara sengaja menyentuh binatang (kecuali keadaan tertentu seperti saat ada nyamuk menyedot darahqu, atau tentu saja saat makan, dan binatangnya dalam keadaan sudah matang dan berbumbu sedap). Jadi pertemuan dengan Theo ini sebetulnya biasa-biasa aja buat gue, tapi cukup untuk mencentang satu bucketlist dalam hidup ini: memegang binatang.

Interaksi singkat ini untuk gue adalah akhirnya membayar rasa penasaran karena selama ini selalu penasaran kayak mana sih bentuk gading gajah yang sebenarnya dan seperti apa rasanya ketika dipegang. Selanjutnya adalah ekspektasi vs realita liburan di Tangkahan. WELL, up to D-1 from the trip I still have no idea what to expect. Ngga sih, lebih tepatnya gue memang tidak mengharapkan apapun dari perjalanan ini selain:
*baca dengan nada Doraemon saat mengeluarkan alat ajaib*

~Liburan di Tangkahan, menginjakkan kaki di Sumatra Utara~

Yes, I am well aware that this trip involves rain forest and river tubing. Tapi kayak... gue pikir akan banyakan trekking-nya daripada main di sungainya. Hehehhe mohon maap, ternyata trekking-nya dilakukan di sungai alias menyusuri sungai sambil jalan kaki, sesekali berenang melawan arus, dan seringnya mengapung aja. Bahkan ngga sempat ada foto selain yang di bawah ini. Terlalu sibuk menyelamatkan nyawa masing-masing, sambil tiduran di atas air. Lazy river pool what???

Di titik ini gue gak ngertilah sebenernya effort kaya gini tuh dalam rangka membuktikan apa sih sama dunia. Ya tetep gue lakukan sih segala koreo melawan arus, kepleset di bebatuan, merambat di dinding penuh lumut dan manjat-manjat dikit juga. Meskipun gue clueless, tapi ternyata ini dia liburan yang gue perlukan. Yang betul-betul away dari laptop, capek-capekin badan tapi hati jadi penuh rasanya ketika berhasil pulang, menutup hari dengan makan malam nikmat, memberi penghargaan kepada diri ini dengan semangkok mie instan rasa soto (iya makannya dua kali, masa engga), serta self-urut dengan minyak kutus kutus andalanqu.

I had to say that my stay at Terrario Tangkahan was exceptional. The service, the ambience, and most especially THE FOOD. Makanan di sini dibuat oleh warga setempat, yang ternyata adalah istri dari Bang Ika yang nemenin kami jalan-jalan di sungai dan ketemu gajah. Gue baru sekarang tau rasanya kecombrang itu kayak apa. Ikan Arsik juga, yang selama ini hanya dengar dari Kenni Cea dan cerita dari acara-acara keluarga Kenni yang selalu menampilkan ikan arsik sebagai menu utama. Di Terrario gue mencoba singkong tumbuk kecombrang, nasi goreng kecombrang, balado ikan sungai pake kecombrang, bahkan nasi goreng juga dikecombrangin. Tapi semuanya masih nikmat banget dimakan dalam satu piring dengan nasi hangat. Gak berlebihan tu rasa kecombrang, gue sih suka-suka aja.

Setiap habis makan malam, staf Terrario akan tanya besok pagi mau sarapan apa. Menu sarapan yang bisa dipilih adalah nasi goreng kecombrang pakai telur, waffle atau pancake. Gue sih tidak memilih waffle atau pancake karena ya kapan lagi men sarapan pake nasi goreng kecombrang. Terus kirain waffle sama pancake nya juga pake kecombrang, ternyata tidak. Pakai maple syrup saja.

Sebetulnya menu sarapan, makan siang dan makan malam itu bisa kita pilih. Tapi khusus makan siang dan makan malam, my trip buddies and I decided to leave it off to istrinya Bang Ika yang masakin makanan untuk kami. Tiap hari, menjelang waktu makan siang dan makan malam rasanya kayak nunggu buka kado ulang tahun.

Apart from the food and keramahan petugas resortnya yang sangaaat friendly kepada kami--kayak ke teman yang udah kenal aja gitu--the facilities was just a-OK. Salah satu down side nya adalah kita ga bisa pakai hairdryer di dalam kamar karena listriknya gak kuat. Ini kejadian agak lucu sih, karena kami gak di-brief tentang hal itu. Gue cuek aja nyalain hairdryer di kamar, eh baru sedetik langsung mati, termasuk semuaaa electricity outlets alias stop kontak. Yang masih menyala hanya lampu dan kipas angin. Setelah petugasnya ngecek, rupanya listrik di kamar gue jebret karena masang hairdryer, dan ternyata alat listrik yang wattnya besar hanya bisa dipakai di colokan yang ada di common area. Ya gimana dong sebagai sobat hijabi mosok mau ngeringin rambut pake kerudung :") Akhirnya gue memanfaatkan kipas angin lucu ini, walau keringnya agak lama banget dan senewen takut masup angin.

Down side kedua adalah kami gak sempat bertemu dan senyum-sapa-salam dengan Nicholas Saputra, juragannya Terrario *dikeplak*. Artinya kapan-kapan harus nginep di sana lagi, barangkali beruntung.


Day 5

I had way soooooo much fun during the trip. Even then, perjalanan ini tentu tak luput dari drama. My drama involved the whole PPKM regulation. Termasuk koreografi kami harus nambah semalam di Kota Medan nunggu hasil tes covid. Gue sih ngga masalah banget ya, justru lumayan karena jadi bisa keliling-keliling lagi walau hanya sebentar. Makasih banyak kepada geng extend yang sama-sama senewen mikirin hasil lab tapi tetap saling menguatkan sambil makan Martabak Piring malam itu di Selat Panjang.

Sedikit pesan sponsor, perjalanan kaya gini dan di momen kaya gini sungguh menuntut ketelitian, harus bisa manage ekspektasi, dan harus siap banget-banget. Beruntung waktu itu dramanya cukup predictable dan cukup bisa dimitigasi *jyyyakh* dengan baik, dan beruntung banget juga dana darurat gue aman waktu itu. Harus tau banget what's at stake for you and for others. Dan gue sungguh bersyukur, di tengah drama tersebut, gue bisa tenang dan bisa memberi afirmasi positif ke diri sendiri, "Ya udah, gapapa, yuk." Pada akhirnya ini semua berhasil diselesaikan dengan gaya. Penting.


Kurang lebih seperti itulah perjalanan pertama gue di Sumatra Utara, di Kota Medan dan Tangkahan. Mau memberi credits kepada Aris @kabutipis selaku ketua pelaksana trip mungil ini, my trip buddies yang ade-ade ajeeee kelakuannye; yang shock-nya ada banget saat mereka tau umur gue yang sesungguhnya;

Ka Amel: alhamdulillah ya kita survive menjadi room mate satu sama lain. Long live ngeringin baju pakai hair dryer!

Ceu Tissa dengan koreo naik pangkat di tengah hutan sawit sambil minum air garam

Jamie the Go-Pro guy

Mba Chizta yang dedikasinya terhadap pekerjaan sungguh patut diapresiasi (secara masih sanggup terima telepon di sungai sambil ngasih makan gajah, kereeeeen)

Panitia acara; Bang Jack dan Bang Ika, yang menjaga keselamatan kami dan barang-barang kami selama mengapung di air.

Panitia transportasi; bang Hanif yang nyetirnya okelaaa untukku yang anaknya mabuk darat banget, 3 jam di jalan kemarin masih aman dan tidak ada keluhan apapun. OIYA mau appreciate playlist di mobil bang Hanif juga karena wooooelah cocok banget untukku yang mendewakan teh Ocha dan Dewa 19. Mana sempat mabuk darat kalau dari menclok mobil sampai di tujuan aku karaoke terosh.

Kalau ada siapapun yang penasaran mau ikut tripnya Aris, gue sangat merekomendasikan sih. Bukan hanya Aris sangat helpful, tapi juga engaging dan informatif. Bener-bener kami yang peserta trip tinggal tau beres, tiap ada pertanyaan, dibantunya jawab, dan selera humor pun 11-12. Penting kan. FYI, 2021 ini trip Aris yang dibuka ke Tangkahan pasti langsung habis dalam sekejap. I knooow, deg-degan banget, tapi sangat sepadan dan ngga ada banget salahnya untuk ikut aja, nyemplung pake kepala duluan sepertiku :)))


Oiya, satu lagi deh, honorable mention untuk beberapa makanan enak yang kujumpai di Kota Medan:

Atas-Bawah; Kiri-Kanan
Bolu Meranti original keju, Indomie Bangladesh, mie gomak di Lontong Medan Kak Lin,
bakmi bebek di Selat Panjang, es krim nogat di Tiptop, soto medan di RM Sinar Pagi


X,
Sarita Ayas

You Might Also Like

0 comments