The Impromptus

10:17 AM

Hello, hello.

It's 8.56 in the morning as I'm writing this. I've only had a little less than two hours of sleep but I'm feeling better than ever. I mean, it's Sunday, the rain's pouring since three, and I woke up to Paramore's Teenagers playing on shuffle mode. As a person who sucks at staying up all night, last night I had every right to and that made me broke my sleepless-night record back in 2010. Yay for me!



Yak. Kemudian Ayas capek nulis Inggris. Hampura.

Kemarin baru baca-baca jurnal, dan sebel sendiri kenapa udah dua minggu nggak nulis, lalu sadar kalau sekolah sudah mulai menggila belakangan ini, terutama sejak mid-February. Cobaan datang dari banyak hal dan kesabaran diuji dari kedelapan penjuru mata angin. Gue yakin bukan gue doang yang udah capek banget, tapi gue juga yakin bukan gue doang yang tetep usaha gimanapun caranya bisa survive.

Gimana caranya survive? I survive by surrounding myself with positive vibes. Dari mulai ngatur mood makan, ngatur friendship circle supaya bawaannya selalu semangat, ngatur jam tidur, berusaha selalu menyibukkan diri, pokoknya semua dilakukan supaya mood terjaga dan supaya ngga punya waktu buat mikirin yang nggak perlu dipikirin. Hehe, you know, me. Tapi ada kalanya gue ngga mau ngatur-ngatur hidup gue sendiri. In a way. Gimana ya, ada kalanya di mana gue menyerahkan semuanya supaya diatur Semesta. No benchmarks, no plan, jalan aja pokoknya menggunakan prinsip gimana-nanti (padahal jatohnya sama aja kayak nggak berprinsip). Oh well.

Friendship, conversations, good food, new places, books, music, movies even break-ups and make-ups. All of those, but the ones we never saw coming. They just happened.

Tiba-tiba pergi ke perbatasan kota, atau tiba-tiba jalan sama orang nggak terduga tanpa tahu mau ke mana dan ngapain, ngobrolin tentang hal paling nggak penting sedunia, terus malah jadi jujur-jujuran, menertawakan segalanya baik yang ada di depan mata dan yang udah-udah, kemudian ngantuk dan memutuskan untuk pulang. Terdengar santai dan sederhana, tapi untuk orang yang kebanyakan mikir dan jarang sekali mau meninggalkan safe-zone, dibutuhkan nyali gede buat berani ngelakuin itu semua dan menanggung risikonya.

Gue nggak akan bilang semua yang terjadi dengan spontan itu selalu asik. Pasti ada juga down side-nya. Kayak risiko pulang ngelewatin curfew, capek di jalan, kenyataan kalau sebenar-benarnya gue ini nggak punya tujuan, dan macem-macem lainnya. The possibilities are endless. Tapi itu semua, di mata gue, akan kalah dengan apa yang tersisa di memori.Ya memori otak, memori handphone juga. Mungkin nggak semuanya dari awal sampai akhir akan terekam, secara gue juga bukan pengingat yang baik. Tapi kejadian-kejadian yang penting akan terpatri dengan sendirinya. Be it the conversations, the laughs, the accidents or whatever.

Bukan berarti tanpa aturan, tapi ketika beberapa hal dikesampingkan, Semesta punya cara untuk memberi kejutan paling menyenangkan. Good luck!



Spreading good vibes,
Sarita Ayas

You Might Also Like

0 comments