Remember Not To Forget
7:34 PM
Dari sekian banyak ketakutan-ketakutan gue, selain takut sama Tuhan dan takut mati dan takut amphibi dan takut remedial dan takut kehilangan, adalah ketakutan akan lupa. Lupa tentang apapun itu, karena gue tahu dari gue kecil (sekarang juga masih kecil, sih) gue anaknya teledor banget. Suka sembarangan kalau nyimpen apa-apa, dan gampang panik. Gue takut banget lupa.
Ngga usah jauh-jauh deh, kemarin mau ke bank ngurus kartu ATM, udah siap tuh segala passbook dan KTP dan udah ngambil nomor antrean, berhubung masih lama dipanggilnya, gue ke ATM aja nyetor uang. Pas buka dompet, rupanya kartu ATM gue ga ada. Kosong aja itu saku yang biasanya buat nyimpen kartu ATM. And I thought I was dead. Udah dicari ke segala penjuru kantong di tas, tapi masih ngga ketemu. Akhirnya gue memutuskan untuk pulang dan sambil jalan gue browsing apa yang mesti gue lakukan sekiranya bener-bener hilang itu kartu. Agak jiper sih waktu baca kalau mesti ke kantor polisi dulu minta SK hilang. Udah gue bongkarin tas-tas yang gue pakai belakangan ini, tapi hasil tetap nihil. Sampai akhirnya gue ingat-ingat baju apa yang terakhir gue pakai ketika gue ke ATM, dan pandangan gue tertuju pada satu hal; rok sekolah yang menggantung di jemuran.
I found my freaking card. Alhamdulillah.
Kemudian gue memaki diri gue selama beberapa saat karena dengan bodohnya gue lupa ngeluarin dari kantong dan membiarkan benda itu tergiling di mesin cuci sampai agak bengkok.
Contoh selanjutnya..., ah, gue pernah panik nyari-nyari handphone padahal benda itu sedang gue pakai sebagai kalkulator. Entah kenapa, my mind was telling me, "Itu kalkulator, bukan handphone." dan nyari sampai ngubek-ubek tas sekolah. Saya rasa memberi contoh keteledoran di sini lama-lama hanya mempermalukan diri sendiri deh. So what do all of the above have to do with the blogpost, Yas?
Jadi gini, tadi iseng buka hard disk, mau lihat video yang waktu itu ditransfer ke situ dan ngecek ada film apa aja. Secara saya bukan kalangan pen-download film, lebih suka streaming. Terakhir inget-inget, isi hard disk-nya udah 100-an gigabyte. Pas tadi dibuka... *jedang* kok cuma 35 gb. Jadi si film-film itu datanya raib, dan yang bikin lebih sakit hati adalah satu file dari tahun 2013 berisi video ulang tahun sayaaaa. Ini kayak mau nangis tapi ngga bisa tapi kesel banget. Coba yah kalau ada yang tau gimana caranya mengulang waktu, tolong kabarin saya. Saya mau balik lagi ke ulang tahun saya yang ke-15 yang sangat bau telor itu.
Lupakan tentang filmnya, gue udah ga mood untuk nonton.
Dan hal pertama yang terlintas di otak gue setelah seluruh kehilangan ini adalah bahwa secanggih-canggihnya teknologi untuk merekam momen dan menyimpan data, kenangan yang sebenarnya itu disimpan di sini *points to the heart* dan di sini *points to the brain*. Dan inilah mengapa gue sangat takut lupa apalagi pikun. Ngga tau ya, tapi I find it relaxing when it comes to remembering the past.
*dan post ini menjadi baper dalam 3... 2... 1*
Ngga deng.
Gue masih menyimpan jurnal-jurnal gue sejak gue SD. Masih menyimpan coret-coretan yang keliatan banget moody-nya ketika gue baru menjajaki fase hormon naik turun untuk yang pertama kali. Masih suka nggak rela kalau diminta mengumpulkan soal ulangan karena di balik kertas itu ada banyak isi pikiran gue. Sampai nanti ketika gue berpikir, "Okay, I'm ready to take them down." dan membuang file-file itu. But I don't think I ever will.
Dan waktu itu gue randomly berpikir nanti kalo udah gede harus tetep inget pelajaran SMA. Kimia dan biologi. Pengen aja tetep inget fase-fase terdispersi dan kawan-kawannya dan ngga mau lupa teori-teori evolusi. Tapi nggak sekarang, saat ini gue penat mengingat semua itu. Who knows maybe I'll be buying buku latihan UN when I'm older dan ngerjain isinya di meja makan, untuk brain exercise aja.
Dan waktu itu gue randomly berpikir nanti kalo udah gede harus tetep inget pelajaran SMA. Kimia dan biologi. Pengen aja tetep inget fase-fase terdispersi dan kawan-kawannya dan ngga mau lupa teori-teori evolusi. Tapi nggak sekarang, saat ini gue penat mengingat semua itu. Who knows maybe I'll be buying buku latihan UN when I'm older dan ngerjain isinya di meja makan, untuk brain exercise aja.
Some people may think that I'm just one of those snapchat spammers, but actually it's an act of trying to cherish the good times. Setiap malem sebelum tidur, buka history snapchat dulu, terus di-save. Udah. Itu cukup untuk menyubstitusi kegiatan menulis karena tinggal pencet-pencet doang. Perhaps that's also why I love taking pictures. Tapi semuanya tetap kalah dengan duduk diam bersama jurnal dan pensil dan penghapus, nulis apa yang mau gue inget. Duh, kalo lo tau rasanya... happiness is, really, as simple as writing.
Udah sih, gue hanya ingin mengeluarkan isi otak gue yang udah bosan libur tiga hari. Oh, dan untuk yang nanya sebetulnya apa yang selama ini gue tulis di jurnal, isinya sama kayak blog ini. No further thoughts, cuma bedanya ini diketik aja. Dan untuk menyimpulkan isi blogpost ini adalah hati-hati kalau nyimpen file, jangan terlalu percaya sama hard disk, dan jaga ingatan kita baik-baik supaya ga pikun. Remember not to forget.
Spreading good vibes,
Sarita Ayas




0 comments