Untitled

2:39 PM

14:01 WIB

Halo, blog. Spotify baru launching di negeri yang luar biasa ini, dan gue sangat sangat senang. Literally. Seandainya uang bisa dipetik dari pohon jadi gue bisa bayar buat Spotify Premium. Kali ini berjudul Untitled, supaya kayak seniman-seniman aja gitu, punya karya yang judulnya tidak diberi judul.
.
.
.
YAY! The Scientist-nya Coldplay diputer di shuffle mode! Entah kenapa hidup jadi sedikit lebih seru kalau shuffle mode di music player muter lagu yang disukai. Gue doang nggak sih yang gara-gara hal kecil kayak gini bisa senyum-senyum sendiri? 

"Nobody said it was easy," ceunah.

Verse itu sangat pas dengan suasana di kota santri hatiku. Ini semua dikarenakan ujian kimia tadi pagi yang sangat mengoyak pertahanan diri. Ini baru mata pelajaran kedua yang diujikan--masih ada empat lagi--dan bawaannya pengen melambaikan tangan ke kamera. Kimia, oh, kimia. Aku ngerti apa sih tentang kamu? Yang aku ngerti banget malah ga ditanya. Terima kasih lho.

Salah satu indikator keseriusan gue dalam ngerjain soal ujian bisa dicek dari kertas coret-coretannya. Kalau coret-coretannya penuh dengan hitungan jawaban, bisa jadi gue serius. Tapi kalau isinya tulisan tangan gue, bisa dipastikan gue udah lelah dengan semua ini. Apasih. Yo wis ngono kuwi lah. Tadi itu satu muka kertas folio yang seharusnya untuk ngitung, gue jadikan koran berisi jurnal harian Ayas. I had to laugh myself off, saking ngga ngertinya mau ngerjain apa dan malah nulis segitu banyak. Belum pernah, seumur-umur, gue nulis sebanyak itu di tengah ujian. Dan dengan kekuatan bismillah dan intuisi yang-ga-bisa-gue-jamin-kebenarannya, keempat puluh butir soal kimia tadi berhasil gue isi.

Ya abis gimana dooooongg....

Ujiannya susah, ada banyak yang ngga gue bisa dan daripada kertas itu nganggur kan mending ditulisin. Ya mungkin salah gue juga kali ya belajarnya kurang serius. Tapi gue rasa kemarin itu belajarnya sudah cukup serius, suwer. Bisa dibandingkan dengan intensitas belajar kimia gue selama beberapa bulan terakhir yang sangat minim karena adanya love-hate relationship dengan guru yang supposed to be ngajarin.

This thing called UN alias Ujian Nasional (atau lebih suka gue sebut Ujian Nanaonan (re: apa-apaan)) masih berlangsung sampai minggu depan. Dan seperti siapapun di angkatan 2016 di seantero negeri ini, seharusnya sekarang gue sedang berdamai dengan buku latihan matematika untuk persiapan besok. Kenapa berdamai? Karena gue cinta damai. Peace, love and gaul seperti Planet Remaja. But instead, sekarang malah tatap-tatapan dengan layar laptop. Entahlah, tadi sudah berusaha meredam keinginan buat nulis dengan tidur siang. Biasanya bisa berjam-jam napping, tapi nggak tenang karena pengen nulis. Passion memang nggak bisa bohong.

Udahan ah. Gue rasa sekarang sudah saatnya gue cabut. By the way, boleh dikatakan post yang ini adalah post ter-nggak mikir sejauh ini. Makanya banyak jayusnya, banyak ngasalnya, pointless, nggak serius. Tapi buat apa juga, lha wong serius udah bubar.
.
.
.
Garing, Nyet.

Satu lagi deh, untuk semua yang tahun ini UN, doaku menyertai kalian semua. We still have days to go, semangat yah. Mari berdamai dengan keenam mata pelajaran luar biasa itu. This will pass and we're gonna survive.


Spreading good vibes,
Sarita Ayas

You Might Also Like

0 comments